MalinauTerkini.com – Tahun 2025 menjadi momentum perubahan wajah infrastruktur perkotaan di Bumi Intimung. Pemerintah Daerah melalui Dinas PUPR Perkim menggelontorkan anggaran total mencapai Rp14,6 Miliar untuk proyek Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) Median.
Bukan sekadar terang, proyek ini membawa misi estetika kota. Namun, di balik kemegahan tiang-tiang baru tersebut, bagaimana hitung-hitungan anggarannya? Berikut laporan lengkap tim redaksi berdasarkan penelusuran dokumen resmi pelaksanaan anggaran atau DPA APBD 2025.
4 Koridor Jalan Dikerjakan Dinas PU, Daerah Mana Saja?
Berdasarkan dokumen pelaksanaan anggaran yang kami himpun, proyek raksasa ini tidak menumpuk di satu titik, melainkan menyebar di empat nadi utama transportasi Malinau.
Proyek ini mencakup paket lengkap: mulai dari perencanaan, pengawasan, hingga konstruksi fisik.
Berikut adalah 4 ruas jalan yang akan “disulap”
-
Ruas Pulau Betung – Simpang Pelabuhan:
Ini adalah paket terbesar dengan nilai total Rp6,84 Miliar.
Jalur logistik dan mobilitas warga ini diproyeksikan menjadi etalase utama wajah baru Malinau.
-
Ruas Teluk Sanggan – Simpang Batu Lidung:
Dengan nilai paket Rp3,4 Miliar, ruas ini akan menghubungkan area permukiman padat menuju akses keluar kota.
-
Ruas KNPI Kuala Lapang – Simpang TVRI:
Kawasan pemerintahan dan pusat kegiatan pemuda ini mendapat alokasi Rp2,63 Miliar.
-
Ruas Simpang Batu Lidung – Jembatan Malinau:
Sebagai gerbang masuk kota, ruas ini dipercantik dengan anggaran Rp1,73 Miliar.
Secara total, jika diestimasi berdasarkan rasio anggaran, proyek ini akan menerangi kurang lebih 15,5 kilometer jalan protokol di Malinau.
“Ini adalah program prioritas dari Pak Bupati untuk membuat jalan-jalan protokol terang untuk akses pada malam hari, karena selama ini lampu penerangan jalan yang telah dibangun 10 atau 15 tahun lalu saat ini sudah tidak maksimal lagi dan dirasa sangat mengganggu aktivitas masyarakat,” jelas Yosep Padanur, Kepala Dinas PUPR Perkim Malinau.

Penerangan Estetika Kota
Apa yang membedakan proyek ini dengan lampu jalan tahun-tahun sebelumnya?
Jawabannya ada pada Spesifikasi Premium dan Identitas Budaya.
Dari pantauan fisik dan dokumen teknis, LPJU Median ini didesain sebagai monumen mini, bukan sekadar tiang besi. Berikut detailnya:
-
Tinggi & Struktur: Menggunakan tiang High Mast (Double Arm) dengan ketinggian di atas 10 meter, memastikan cakupan cahaya yang luas untuk dua jalur jalan.
-
Ornamen Khas (Custom Art):
-
Bagian Bawah: Pondasi tiang dibungkus pelindung besi tempa (cast iron) berbentuk Tempayan dengan motif Naga, memberikan kesan kokoh dan elegan.
-
Bagian Tengah: Terdapat plat besi custom (laser cutting) yang menampilkan ornamen Perisai, lengkap dengan silang Mandau dan Tombak. Ini adalah simbol perlindungan dan keberanian adat setempat.
-
Bagian Pucuk: Di ujung tertinggi tiang, terdapat ornamen mahkota berwarna keemasan yang berkilau saat terkena cahaya.
-
-
Pencahayaan Ganda: Selain lampu sorot utama (LED Putih) untuk jalan, tiang ini dilengkapi lampu hias warna-warni yang berfungsi sebagai dekorasi artistik di malam hari.
-
Kabel Tanam: Tidak ada kabel udara yang semrawut. Seluruh jaringan menggunakan sistem underground cablingdi dalam median jalan, menciptakan pemandangan langit yang bersih.
Analisa Proyek dan Biaya: Mahal atau Wajar?
Untuk menjaga validitas data, Malinau Terkini melakukan bedah anggaran dengan metode komparasi data DPA Dinas PUPR Perkim Malinau APBD 2025 terhadap kondisi lapangan.
Kami mengambil sampel pada ruas Simpang Pelabuhan menuju Pulau Betung (tepat sebelum SPBU Pulbet lama).
-
Data Lapangan: Panjang ruas ±7,3 KM dengan jumlah 156 titik lampu, (Verifikasi Lapangan 20 Januari 2026)
-
Data Anggaran: Total Rp6.848.240.000 (Fisik + Perencanaan + Pengawasan).
Hasil Kalkulasi: Biaya rata-rata pembangunan jatuh di angka Rp938 Juta per Kilometer.
Jika dibedah per satuan, harga satu titik tiang (lengkap dengan biaya tanam kabel, pondasi, perencanaan, dan pengawasan) berada di kisaran Rp43 Juta per unit.
Kata Kontraktor:
Malinau Terkini melakukan survei ringan pada beberapa kontraktor sipil dan kelistrikan regional. Mayoritas narasumber menyatakan bahwa angka Rp40-an juta untuk spek tersebut tergolong WAJAR untuk standar harga Malinau, hanya jika spesifikasi sesuai dengan standarisasi tipe LPJU Double arm sebagaimana fasilitas high-end jalan protokoler umumnya.
“Jika melihat speknya yang ‘Full Ornamen’ custom, pakai tembikar (tempayan) besi cor, tiang galvanis tinggi di atas 10 meter, dan galian kabel tanah yang biayanya tinggi, angka itu masuk akal. Apalagi logistik ke Kaltara tidak murah. Asalkan, volume dan kualitas barang yang dipasang itu benar-benar sesuai spek di atas kertas. Mahal, kalau tidak sesuai spek,”ujar Kontraktor sipil lokal Kaltara, Mus.
Viral itu mudah, merawatnya yang butuh komitmen. apakah ini akan menjadi terang yang abadi, atau sekadar euforia sesaat? Warga Malinau, karena berharganya kegiatan ini, mari bersama awasi keberlanjutan penerangan Malinau, agar daerah kita yang makin berkembang ini terang setiap malam.
Catatan Redaksi: Liputan ekslusif ini kami hadirkan untuk memberikan perspektif kritis dan jurnalisme solutif. Data yang kami peroleh dijamin keabsahannya serta sebagai bentuk pengawasan publik terhadap pembangunan di daerah. Kami telah merangkum solusi konkret terkait ulasan serupa pada artikel selanjutnya:
(Tim Litbang Malinau Terkini)

Andin Eka Mulandari adalah jurnalis yang berbasis di Malinau, Kalimantan Utara. Dengan pengalaman 5 tahun meliput dinamika lokal, ia berfokus pada isu ekonomi, kebijakan fiskal dan birokrasi penmerintah didukung studinya di Strata 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas. Berkomitmen menyajikan berita akurat dan berimbang bagi masyarakat Bumi Intimung


