MalinauTerkini.com– Tingkat inflasi Kalimantan Utara sepanjang tahun 2025 berhasil menunjukkan performa yang cukup stabil di angka 2,57 persen secara tahunan (year-on-year). Catatan makroekonomi ini membawa angin segar bagi iklim investasi dan daya beli masyarakat di wilayah Provinsi Kalimantan Utara karena berada di bawah rata-rata nasional. Berdasarkan data berkala terbaru, tingkat inflasi nasional pada periode yang sama terpantau menyentuh angka 2,92 persen.
Jika ditinjau secara historis, pergerakan indeks harga konsumen di Bumi Benuanta ini sejatinya mengalami tren peningkatan dibanding tahun 2024 yang tercatat sebesar 1,29 persen. Meski demikian, situasi pasar saat ini dinilai jauh lebih aman dibandingkan lonjakan drastis pasca-pandemi pada tahun 2022 silam yang sempat menembus level 4,74 persen.
Menanggapi fluktuasi pergerakan pasar tersebut, Kepala BPS Kaltara, Mustaqim, memberikan pandangan yang berimbang mengenai kondisi domestik.
Menurutnya, pergerakan angka ini murni mencerminkan dinamika penyesuaian pasokan barang di pasar serta adanya perubahan regulasi tarif beberapa instansi publik setempat. Hal ini menunjukkan koordinasi tim pengendali inflasi daerah masih berjalan di jalur yang tepat.
Kelompok Pengeluaran Utama yang Menggerakkan Inflasi Kalimantan Utara
Kenaikan kurva harga di Kalimantan Utara sepanjang periode ini tidak bergulir secara merata, melainkan didominasi oleh tiga sektor pengeluaran utama konsumen. Sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya menempati urutan teratas sebagai motor penggerak utama dengan laju kenaikan harga mencapai 12,95 persen dan menyumbang andil inflasi sebesar 0,94 persen.
“Kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau mengekor di posisi kedua dengan sumbangan andil pasar sebesar 0,75 persen serta tingkat inflasi sektoral sebesar 2,32 persen,” Mustaqim.
ungkap Kelompok barang kebutuhan pokok ini sangat rentan bergejolak karena distribusinya kerap dipengaruhi oleh faktor cuaca buruk, ketersediaan stok, dan momentum hari raya keagamaan.
Pada urutan ketiga, sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar ikut menyumbang andil inflasi sebesar 0,51 persen dengan kenaikan harga rata-rata 3,12 persen. Faktor paling krusial yang menekan pengeluaran rumah tangga pada sektor ini adalah adanya langkah penyesuaian tarif air minum dari perusahaan daerah secara serentak.

Lima Komoditas Utama Pemicu Inflasi Kalimantan Utara
Jika ditelisik lebih mendalam secara mikro, terdapat lima barang konsumsi spesifik yang menjadi pemicu utama pembengkakan biaya hidup masyarakat. Emas perhiasan kokoh berada di peringkat pertama dengan menyumbang andil tahunan tertinggi, yakni mencapai 0,79 persen akibat tren harga global yang terus meroket.
Kebijakan lokal berupa penyesuaian tarif air minum PAM berada di posisi kedua dengan menyumbang andil inflasi terhadap pergerakan pasar sebesar 0,30 persen. Sektor pelayanan kesehatan publik juga ikut andil, di mana penyesuaian tarif rumah sakit menyumbang angka peningkatan indeks sebesar 0,18 persen.
Untuk komoditas pangan, pergerakan harga ikan bandeng atau ikan bolu menyumbang andil inflasi tahunan sebesar 0,15 persen di tingkat pedagang ikan. Terakhir, komoditas beras selaku makanan pokok utama masyarakat mengunci posisi lima besar dengan menyumbang andil pasar sebesar 0,13 persen.
Komoditas Utama Penahan Laju Inflasi Kalimantan Utara
Kabar baiknya, keseimbangan pasar di wilayah ini masih terjaga berkat adanya penurunan harga yang signifikan pada sejumlah barang kebutuhan alternatif. Komoditas hortikultura seperti tomat menjadi penyelamat utama dengan memberikan andil deflasi tahunan terbesar di angka minus 0,08 percent.
Bahan makanan pokok turunan kedelai seperti tahu mentah dan tempe juga kompak mengalami penurunan harga di pasar dengan andil masing-masing sebesar minus 0,04 persen. Selain itu, bumbu dapur populer berupa bawang putih ikut mendinginkan suasana dengan menyumbang andil penurunan indeks pasar sebesar minus 0,04 persen.
Sektor jasa angkutan umum jarak jauh juga turut berkontribusi positif dalam meredam gejolak pengeluaran konsumen di daerah sepanjang tahun ini. Tarif angkutan udara secara kumulatif tercatat berhasil memberikan andil menahan laju kenaikan harga dengan angka minus 0,03 persen.

Analisis Dinamika Bulanan dan Kejutan Tarif Listrik Regional
Apabila mencermati dinamika dari bulan ke bulan, terdapat pasang surut indeks harga yang dipicu oleh kebijakan subsidi dan pola konsumsi musiman masyarakat. Rekor lonjakan bulanan (month-to-month) tertinggi pecah pada bulan maret dengan angka inflasi mencapai 2,16 persen akibat berakhirnya program stimulus potongan harga listrik dari pemerintah.
Momen hilangnya subsidi listrik tersebut bertepatan langsung dengan fase menjelang ramadan dan idulfitri, sehingga memicu lonjakan permintaan barang secara mendadak di pasar. Kontras dengan kondisi tersebut, awal tahun di bulan januari justru mencatat deflasi terdalam hingga minus 1,35 persen berkat efektivitas pemberlakuan diskon tarif listrik.
Dinamika unik juga terjadi pada bulan juli, di mana sektor kesehatan melonjak hingga 6,89 persen imbas dari penyesuaian biaya komponen rawat inap rumah sakit. Namun pada saat bersamaan, sektor transportasi laut justru merosot hingga minus 2,51 persen berkat adanya kebijakan pemotongan harga tiket kapal sebesar 50 persen dari pemerintah daerah.

Andin Eka Mulandari adalah jurnalis yang berbasis di Malinau, Kalimantan Utara. Dengan pengalaman 5 tahun meliput dinamika lokal, ia berfokus pada isu ekonomi, kebijakan fiskal dan birokrasi penmerintah didukung studinya di Strata 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas. Berkomitmen menyajikan berita akurat dan berimbang bagi masyarakat Bumi Intimung


