Warga Krayan ke Malinau Didominasi Keperluan Berobat

Pesawat Pilatus Porter melintas di wilayah perbatasan Krayan, Kalimantan Utara.
Pesawat perintis jenis Pilatus Porter terlihat terbang di wilayah Krayan, Kalimantan Utara. Pesawat ini menjadi sarana transportasi utama warga untuk menuju Malinau, terutama guna mengakses layanan kesehatan.

Malinauterkini.com – Tingginya arus penumpang penerbangan perintis menuju Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, pada akhir tahun tidak semata dipicu oleh aktivitas mudik.

Data lapangan dan keterangan warga menunjukkan bahwa sebagian besar penumpang dari wilayah Krayan justru bepergian untuk mengakses layanan kesehatan di Malinau.

Bacaan Lainnya

Lonjakan penumpang semakin terasa setiap akhir tahun. Ini merupakan akumulasi dari mudik natal termasuk keperluan mendesak lainnya. Baca data penumpang mudik Natal 2025 di Bandara Malinau

Kondisi tersebut terlihat pada rute penerbangan perintis Krayan–Malinau yang saat ini menjadi salah satu jalur vital mobilitas masyarakat perbatasan, khususnya untuk keperluan pengobatan.

Mobilitas Akhir Tahun dan Rute Penerbangan Perintis

Saat ini, Bandara Malinau melayani dua rute penerbangan perintis utama, yakni rute dalam daerah Apau Kayan–Malinau serta rute antardaerah Krayan–Malinau. Pada periode akhir tahun, tingkat keterisian penerbangan meningkat signifikan.

Antrean penumpang dari Krayan menuju Malinau tercatat cukup panjang. Tidak seluruhnya merupakan pemudik, melainkan warga yang membutuhkan akses layanan publik, terutama fasilitas kesehatan rujukan.

 

Warga Krayan menunggu penerbangan menuju Malinau di bandara perintis.
Sejumlah warga Krayan tampak menunggu jadwal penerbangan di bandara perintis. Penerbangan ke Malinau sebagian besar dimanfaatkan untuk keperluan berobat dan akses layanan kesehatan.

Akses Kesehatan Menjadi Alasan Utama

Salah satu penumpang, Elisa Buing (67), warga Long Bawan, harus menempuh perjalanan udara menuju Malinau untuk menjalani pengobatan di RSUD Malinau. Keterbatasan layanan kesehatan di wilayah perbatasan membuat Malinau menjadi pilihan terdekat dan paling memungkinkan.

Putra Elisa, Frengky, menjelaskan bahwa penerbangan menjadi satu-satunya jalur efektif untuk mendapatkan penanganan medis.
“Dari Long Bawan ke Malinau untuk berobat. Saat ini penerbangan memang padat karena akhir tahun,” ujarnya.

Kondisi serupa dialami banyak warga Krayan lainnya yang mempertimbangkan jarak tempuh dan kelengkapan fasilitas kesehatan di Malinau dibandingkan daerah alternatif.

Frekuensi Penerbangan Masih Terbatas

Perwakilan Masyarakat Krayan di Malinau, Henri Tetiawadi, menyoroti keterbatasan jadwal penerbangan perintis yang hanya tersedia dua kali dalam sepekan. Menurutnya, kondisi ini menyulitkan warga yang memiliki kebutuhan mendesak, terutama dalam situasi darurat medis.

Keluhan serupa seringkali ditemukan tiap akhir tahun. keluhan warga Krayan terkait ketiadaan SOA Kaltara

Ia menyampaikan harapan agar pemerintah daerah dan provinsi dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan transportasi udara masyarakat perbatasan.
“Jumlah penerbangan sangat terbatas, sementara kebutuhan warga cukup tinggi. Kami berharap ada penambahan frekuensi penerbangan,” ujarnya.

Petugas memeriksa kondisi kesehatan pasien rujukan dari Krayan.
pasien rujukan asal Krayan setibanya di Malinau, mencerminkan tingginya ketergantungan warga perbatasan pada fasilitas kesehatan di luar daerah.

Dibanding Tahun Sebelumnya, Jumlah Penerbangan Menurun

Secara komparatif, jumlah penerbangan perintis rute Malinau–Krayan pada tahun ini lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode sebelumnya, terdapat tambahan penerbangan melalui dukungan program Subsidi Ongkos Angkut (SOA) Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.

Tahun ini, penerbangan hanya mengandalkan dua jadwal per minggu yang disubsidi melalui APBN, tanpa dukungan tambahan dari program daerah.

Pos terkait