MalinauTerkini.com– Peristiwa Banjir di Kabupaten Malinau yang terjadi sejak Rabu, 25 Februari 2026, kini telah surut sepenuhnya, Jumat (27/2/2026).
Bencana yang dipicu luapan tiga sungai besar ini meninggalkan catatan sejarah kelam dengan rendaman air yang meluas hingga ke wilayah perkotaan.
Banjir ini pertama kali dilaporkan menerjang wilayah hulu, tepatnya di Desa Paking, pada Rabu dini hari akibat akumulasi curah hujan ekstrem.
Aliran air kiriman dari Sungai Mentarang, Sungai Malinau, dan Sungai Sesayap kemudian bergerak cepat menuju hilir dan mulai menggenangi kawasan perkotaan pada Rabu sore. Banjir beralih dari Kecamatan Mentarang ke Malinau Kota pada sore harinya. Banjir bertahan hingga keesokan hari Kamis 26 Februari 2026 sebelum dilaporkan surut pada malam hari.
10 Desa Terdampak Banjir di Kabupaten Malinau
Luapan air sungai kali ini tercatat merendam pemukiman penduduk di sepuluh wilayah desa yang tersebar di beberapa kecamatan strategis.
Wilayah terdampak meliputi Desa Paking, Desa Long Gafid (Singai Terang), Desa Pulau Sapi, dan Desa Long Kenipe.
“Di Desa Paking kejadiaannya Pukul 2 subuh, kemudian berangsur surut siang hari,” ujar Kades Paking, Nanding Dawat.
Selain itu, banjir juga merambah hingga ke Desa Tanjung Lapang, kawasan padat penduduk di Desa Malinau Kota, Desa Pelita Kanaan, dan Desa Malinau Hulu. Dampak air kiriman juga dirasakan oleh warga di Desa Malinau Seberang serta wilayah Respen Tubu di Kecamatan Malinau Utara.
Kondisi di sepuluh desa tersebut bervariasi, namun sebagian besar mengalami gangguan akses transportasi dan kelumpuhan aktivitas ekonomi selama dua hari berturut-turut. Genangan Banjir di Kabupaten Malinau baru benar-benar dilaporkan mulai surut secara signifikan di wilayah perkotaan pada Kamis siang, 26 Februari 2026.
Duka Dua Korban Meninggal Dunia
Di balik kerugian material, Banjir di Kabupaten Malinau tahun ini merenggut dua nyawa warga setempat dalam dua insiden terpisah. Tragedi pertama menimpa seorang balita laki-laki berinisial DM (2) yang ditemukan tenggelam di kawasan Seluwing, Desa Malinau Kota.
Korban ditemukan di tengah kepungan banjir setinggi 1,5 meter yang masuk hingga ke dalam area dapur rumahnya pada Rabu sore. Meski sempat dilarikan ke RSUD Malinau, nyawa korban tidak dapat tertolong dan dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis.
Tragedi kedua menimpa seorang warga di Pelita Seberang, RT 002, yang dilaporkan hilang saat sedang memasang pukat di sungai. Jasad korban ditemukan dalam kondisi tenggelam pada Kamis siang setelah dilakukan pencarian intensif oleh keluarga bersama warga dan petugas keamanan.
Kapolsek Malinau Kota, Ipda Santun Siboro menjelaskan korban meninggal dunia setelah ditemukan tak jauh dari perahunya. Sebelumnya warga bersama petugas menemukan korban berdasarkan jejak terakhir kali korban dilihat.
“Siang hari, korban ditemukan setelah dilakukan pencarian. Dari informasi saksi, sempat melihat korban memukat sore harinya. Korban ditemukan meninggal dunia dan telah dievakuasi,” kata Kapolsek Kota.

Dampak Pendidikan dan Akses Transportasi
Sektor pendidikan menjadi salah satu aspek yang paling terdampak akibat tingginya debit air di halaman sekolah saat Banjir di Kabupaten Malinau.
Sejumlah instansi pendidikan di zona merah terpaksa mengambil kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) guna menjamin keselamatan para peserta didik.
Beberapa sekolah yang terpaksa meliburkan aktivitas tatap muka antara lain SDN 001 Malinau Kota, SDN 003 Malinau Kota, serta PAUD dan TK Al-Hidayah. Di TK Al-Hidayah sendiri, ketinggian air dilaporkan mencapai lutut orang dewasa sehingga aktivitas belajar sangat tidak memungkinkan.
Meskipun sekolah sedang menjalankan program BDR, dedikasi tenaga pendidik tetap berjalan dengan penyaluran bantuan makanan tambahan bagi siswa. Guru-guru secara proaktif mengantarkan bantuan tersebut langsung ke rumah siswa yang terisolasi oleh genangan air kiriman.
Kelumpuhan Akses Jalan Protokol dan Upaya Relawan
Akses transportasi di wilayah perkotaan sempat mengalami lumpuh total di beberapa titik krusial. Jalan Seluwing dan Jalan Intimung Jalur Satu menjadi wilayah yang ditutup paling lama karena kedalaman air yang membahayakan mesin kendaraan.
Ketua Relawan Masyarakat Peduli Bencana (RMPB) Malinau, Anwar, melaporkan bahwa tim relawan terus bersiaga memantau pergerakan air dari hulu ke hilir. Kehadiran relawan di lapangan sangat membantu dalam mengarahkan pengendara ke rute alternatif selama jalur utama terendam.
“Pada sore hari air berangsur surut dan pada 27 Februari surut sepenuhnya kita berharap cuaca baik dan tak terjadi banjir susulan,” ungkap Anwar.
Pihak keamanan juga melakukan penyekatan di wilayah Tanjung Lapang guna menghindari kemacetan panjang akibat kendaraan yang mogok. Kerjasama antara petugas, relawan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak kerugian yang lebih luas.

Mitigasi Peringatan Kewaspadaan Pasca Banjir
Setelah dua hari bergelut dengan terjangan air, kondisi Banjir di Kabupaten Malinau kini mulai melandai seiring membaiknya cuaca di wilayah hulu. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan yang diprediksi masih bisa terjadi hingga akhir Februari.
Warga segera melakukan pembersihan sisa lumpur dan sampah guna menghindari munculnya penyakit pasca banjir. Pastikan seluruh instalasi listrik di rumah benar-benar kering sebelum kembali digunakan untuk menghindari risiko korsleting.
Tetap pantau pembaruan informasi melalui kanal resmi MalinauTerkini atau kanal resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk mendapatkan data akurat mengenai pemulihan pasca bencana. Mari kita doakan agar para korban Banjir di Kabupaten Malinau yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan Bumi Intimung segera pulih dari musibah ini.

Maya adalah jurnalis MalinauTerkini.com yang meliput isu-isu pemerintahan, kecelakaan lalu lintas, layanan publik, dan dinamika sosial masyarakat di Malinau, Kalimantan Utara. Sejak bergabung pada 2022, ia aktif melakukan peliputan langsung dari lapangan dan menyajikan laporan yang akurat serta terverifikasi.


