17 Ribu Kiloliter BBM Subsidi Terpakai di Malinau Selama 2025

Deretan pengendara motor mengantre di depan gerai Pertashop Malinau saat stok BBM mulai tersedia.
Sejumlah pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi BBM di salah satu Pertashop wilayah Malinau Kota, Jumat (19/12/2025). Kedatangan stok baru ini mulai mengurai kepadatan antrean setelah sempat terjadi kelangkaan selama sepekan.

MalinauTerkini.com – Sepanjang tahun 2025, sebanyak 17.198 Kiloliter (KL) Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dilaporkan telah mengalir dan terserap oleh masyarakat di Kabupaten Malinau.

Meski angka ini terlihat sangat besar, faktanya distribusi bahan bakar yang disubsidi negara tersebut belum merata hingga ke titik nol perbatasan Indonesia-Malaysia.

Bacaan Lainnya

Sulitnya akses jalan darat menuju wilayah Apau Kayan masih menjadi batu sandungan utama yang menyebabkan ribuan liter kuota BBM subsidi justru tidak terserap maksimal.

Kepala Bagian Ekonomi dan SDA Setkab Malinau, Erly Sumiati menyampaikan bahwa serapan penuh hanya dirasakan oleh masyarakat yang berada di wilayah perkotaan.

“Untuk jenis solar, 4.990 Kiloliter (KL) sementara pertalite 12.208 KL. Untuk di kota terserap penuh, hanya di daerah Apau Kayan belum maksimal terkendala akses,” ungkapnya kepada TribunKaltara.com, Selasa (10/2/2026).

Kondisi infrastruktur yang ekstrem membuat pengiriman BBM ke pedalaman sering terhenti di tengah jalan, sehingga warga di sana harus mencari alternatif lain.

Realisasi BBM subsidi Malinau tahun 2025
Infografik realisasi BBM subsidi malinau di tahun 2025. Data Bagian Perekonomian dan SDA Setkab Malinau diolah Tim LItbang MalinauTerkini.com

Jatah BBM Bersubsidi untuk Malinau

Jika menilik data resmi, Kabupaten Malinau sebenarnya mendapatkan jatah yang jauh lebih besar dari yang terserap saat ini.

Untuk jenis Solar, dari kuota yang disiapkan sebesar 6.792 KL, sebanyak 1.802 KL jatah solar justru tidak bisa dinikmati warga karena kendala pengiriman.

Sementara untuk Pertalite, dari total alokasi 15.669 KL, terdapat sisa sekira 3.461 KL yang juga gagal terdistribusi ke wilayah pedalaman.

Erly menjelaskan, rendahnya angka serapan ini murni karena masalah teknis transportasi di lapangan, bukan karena warga tidak membutuhkan.

“Jadi bukan karena berlebih ya kuotanya tapi karena akses. Ini khusus wilayah perbatasan sehingga kuotanya memang terserap penuh di kota tapi daerah Apau Kayan belum 100 persen,” tegasnya.

Kondisi ini dialami oleh warga di lima kecamatan wilayah perbatasan seperti Kecamatan Sungai Boh, Kayan Hulu, Kayan Selatan, hingga Kayan Hilir.

Mirisnya, saat kuota subsidi dari pemerintah Indonesia ini mengendap karena masalah jalan, warga di perbatasan justru seringkali terpaksa membeli BBM dari negara tetangga untuk bertahan hidup.

Pemerintah Kabupaten Malinau kini terus berupaya mengawal agar hambatan logistik ini bisa segera teratasi agar kelangkaan BBM tidak lagi menghantui warga di tahun 2026 ini.

Pos terkait