Profil Bandara Malinau 2026: Sejarah, Fasilitas hingga Spesifikasi Lengkap

Bandara Malinau atau Bandara Seluwing atau Bandara RA Bessing berkode LNU
Bandara Malinau atau Bandara Seluwing atau Bandara RA Bessing berkode LNU 2026 ini

MalinauTerkini.com – Bandara Malinau atau yang secara resmi bernama Bandar Udara Kolonel Robert Atty Bessing, merupakan urat nadi transportasi udara paling vital di wilayah perbatasan Kalimantan Utara. Sebagai gerbang utama di Bumi Intimung, bandara ini memiliki peran krusial dalam menghapus isolasi geografis yang selama ini menjadi tantangan besar.

Secara historis, pembangunan infrastruktur ini berakar dari semangat kemandirian daerah pasca pemekaran Kabupaten Malinau dari Kabupaten Bulungan pada tahun 1999. Kini, berdiri di atas lahan seluas 381.677 m², Bandara Malinau telah bertransformasi menjadi pilar strategis bagi mobilisasi manusia dan logistik esensial.

Bacaan Lainnya

Sejarah Penamaan Bandara Malinau: Dari Seluwing ke RA Bessing

Sebelum dikenal dengan kemegahannya saat ini, Bandara Malinau awalnya bernama Bandar Udara Seluwing.

Nama “Seluwing” merujuk pada identitas geografis lokal tempat landasan pacu pertama kali dibangun.

Pada masa awal, Seluwing hanya berfungsi sebagai lapangan terbang perintis dengan fasilitas sangat terbatas.

Bandara Malinau dulu dikenal sebagai Bandaar Seluwing dan berganti Nama menjadi Bandara Robert Atty Bessing dengan sejumlah kontroversi
Bandara Malinau dulu dikenal sebagai Bandara Perintis Seluwing dan berganti Nama menjadi Bandara Robert Atty Bessing dengan sejumlah kontroversi

Kontroversi Penamaan dan Suara Suku Tidung

Perubahan nama menjadi Bandar Udara Kolonel Robert Atty Bessing berdasarkan PM 39 Tahun 2019 ternyata menyisakan catatan sejarah yang dinamis.

Meski dimaksudkan sebagai penghormatan bagi tokoh militer, penamaan ini sempat menuai gelombang penolakan dari warga lokal, terutama penduduk asli Suku Tidung di Malinau Kota.

Penolakan ini berdasar pada background tokoh RA Bessing yang dinilai tidak memiliki catatan kontribusi yang nyata. Ini juga berdasarkan pertimbangan faktor geopolitik lokal dan perannya dalam desain perpolitikan suksesi awal Malinau berbentuk kabupaten.

Beberapa alasan lain juga disebabkan pengaruh politik pra pemekaran Malinau sebagai kabupaten, relasi kuasa sentralistik dari Pemerintah RI hingga beberapa pertimbangan lain seperti kesesuaian pembagian usulan wilayah pemekaran Malinau.

Bagi masyarakat, masih banyak tokoh lokal yang memiliki sejarah dan sepak terjang yang lebih valid untuk penamaan Bandara tersebut.

Mengutip dari TribunKaltara.com, Mendiang Ketua Umum Lembaga Adat Tidung Malinau (LABT), Edy Marwan, semasa hidupnya pernah mengungkapkan bahwa masyarakat adat telah beberapa kali mengusulkan nama tokoh lokal yang dianggap lebih relevan.

Nama-nama seperti Muhammad Raga (tokoh kesehatan), Dato Mansur, hingga Hj. Abdul Mutholib diusulkan karena dinilai memiliki kedekatan historis yang lebih kuat dengan tanah Malinau.

Fasilitas Teknis: Kapasitas Sisi Udara (Airside) Bandara Malinau

Sebagai bandara Kelas III, Bandara Malinau dirancang untuk menghadapi tantangan geografis tinggi khas pedalaman Kalimantan. Fokus utama pengembangannya adalah menjamin keselamatan penerbangan jenis turboprop agar konektivitas tetap terjaga sepanjang tahun.

Runway Tangguh untuk Pesawat ATR 72

Jantung dari Bandara Malinau adalah landas pacu (runway) sepanjang 1.450 meter dengan lebar 30 meter berbahan aspal hotmix. Dengan kekuatan landasan (PCN) sebesar 15, bandara ini sangat mumpuni untuk melayani pesawat komersial regional seperti ATR 72-500/600.

Namun, karena kondisi topografi dan cuaca yang sering berubah, operasional penerbangan di sini sangat bergantung pada pandangan visual penerbang (Visual Flight Rules). Hal ini membuat keterampilan navigasi pilot menjadi faktor penting dalam setiap pendaratan di Malinau.

Situasi ruang tunggu keberangkatan Bandara Malinau yang cukup padat oleh penumpang di bawah papan informasi jadwal penerbangan.
Peningkatan volume penumpang mulai terlihat di ruang tunggu utama Bandara Malinau menjelang jam keberangkatan siang. Bagi masyarakat yang akan bepergian, disarankan untuk tiba lebih awal agar proses pemeriksaan dokumen berjalan nyaman.

Sisi Darat: Kenyamanan Penumpang dan Nadi Logistik Perbatasan

Tidak hanya unggul di sisi udara, infrastruktur sisi darat Bandara Malinau juga terus dipacu untuk mendukung ekonomi kerakyatan. Gedung terminal penumpang kini memiliki luas 3.000 m² yang representatif bagi puluhan ribu penumpang per tahun.

Gedung Kargo sebagai Penyangga Ekonomi

Untuk mendukung distribusi barang di perbatasan, tersedia Gedung Kargo seluas 200 m² dengan area parkir khusus seluas 500 m². Fasilitas ini menjadi jalur “nadi” bagi distribusi kebutuhan pokok dari pusat kota ke kecamatan terpencil seperti Long Bawan dan Long Apung melalui maskapai perintis. Tanpa kehadiran fasilitas kargo yang memadai di Bandara Malinau, harga barang di pedalaman bisa melonjak berkali-kali lipat.

Dinamika Operasional: Kontroversi Hanggar Susi Air

Eksistensi Bandara Malinau sempat menjadi sorotan nasional pada Februari 2022. Insiden “pengeluaran paksa” pesawat Susi Air dari hanggar bandara memicu perbincangan hangat di media sosial dan meja kebijakan nasional.

Ketegangan ini melibatkan berakhirnya kontrak sewa hanggar dan masuknya operator baru, Smart Aviation (Smart Air). Bagi maskapai perintis, memiliki basis di Bandara Malinau dianggap sebagai “tambang emas” strategis karena posisinya sebagai hub utama menuju pelosok Kalimantan Utara yang sangat bergantung pada subsidi angkutan udara.

Terminal Bandara Malinau Kota, Malinau Kalimantan Utara, Foto oleh Sup MalinauTerkini
Terminal Bandara Malinau Kota, Malinau Kalimantan Utara,

Signifikansi Geopolitik dan Proyeksi Masa Depan

Terletak di garda terdepan nusantara, Bandara Malinau memiliki nilai geopolitik tinggi karena berbatasan langsung dengan Malaysia. Bandara ini mendukung fungsi pertahanan negara serta Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti pembangunan PLTA Mentarang Induk.

Proyeksi masa depan menunjukkan perlunya perpanjangan landasan pacu menjadi 1.800 meter. Target ini bertujuan agar pesawat ATR 72 dapat mendarat dengan beban penuh (full payload), sehingga meningkatkan efisiensi transportasi udara dan menurunkan biaya logistik di Kalimantan Utara secara signifikan.

 

Pos terkait