Kucing Merah Endemik Kalimantan yang Hidup di TNKM Bakal Jadi Maskot Porprov II Kaltara 

kucing-merah-maskot-porprov-kaltara.jpeg
Foto Kucing merah yang berada di kandang tepatnya di Serawak, Malaysia, tahun 2005. Foto: Wikimedia Commons/Jim Sanderson/CC BY-SA 3.0.

MalinauTerkini.com – Kucing merah Kalimantan (Catopuma badia), satwa liar langka yang hidup di kawasan hutan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), bakal menjadi maskot Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II Kalimantan Utara (Kaltara).

Pemilihan kucing merah sebagai maskot menjadi salah satu upaya mengangkat identitas daerah dalam pelaksanaan Porprov II Kaltara yang akan digelar di Kabupaten Malinau. Di sisi lain, penggunaan satwa endemik tersebut diharapkan dapat mengenalkan keberadaan dan pentingnya menjaga kelestarian satwa langka Kalimantan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malinau, Ernes Silvanus, mengungkapkan pemilihan kucing merah sebagai maskot telah melalui proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, panitia juga melibatkan lembaga adat.

“Kalau untuk maskot itu nanti kucing merah, itu melalui proses yang cukup panjang, kita juga melibatkan lembaga adat,” ujar Ernes saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, desain maskot yang sebelumnya terpilih melalui sayembara masih dalam tahap penyempurnaan. Panitia melakukan sejumlah perbaikan, termasuk pada unsur warna, ukiran dan tulisan.

Menurut Ernes, penyempurnaan dilakukan agar maskot dan logo Porprov II Kaltara memiliki tampilan yang lebih kuat dan kontras.

“Yang kemarin menang itu masih asli dari pembuat. Nah setelah ini baru kami coba improve, kita tambahkan baik pewarnaan, tulisan, perbaikan-perbaikan supaya dia terlihat lebih kontras,” jelasnya.

Ernes mengatakan panitia memiliki kewenangan untuk menyesuaikan desain pemenang sayembara dengan kebutuhan penyelenggaraan Porprov. Rencananya, maskot dan logo tersebut akan diluncurkan secara resmi pada 9 September 2026 bertepatan dengan momentum Hari Olahraga Nasional (Haornas).

Pemilihan kucing merah juga memiliki alasan khusus. Satwa dengan nama ilmiah Catopuma badia tersebut merupakan salah satu satwa endemik Pulau Borneo yang keberadaannya tergolong langka.

Kucing merah memiliki tubuh ramping, ekor panjang dan bulu berwarna cokelat merah keemasan. Satwa ini hidup di kawasan hutan hujan primer, termasuk di wilayah TNKM, dan masuk kategori Endangered atau terancam punah dalam daftar IUCN.

Keberadaan kucing merah di TNKM kembali terekam kamera pengintai Balai TNKM pada 2023. Rekaman tersebut kemudian diunduh pada 2024 dan dipublikasikan pada awal 2025.

Sebelumnya, keberadaan satwa tersebut di kawasan TNKM tercatat pada 1957 melalui penelitian peneliti asal Prancis. Selanjutnya, kucing merah kembali tercatat pada 2003 melalui kerja sama WWF.

Minimnya informasi mengenai kehidupan kucing merah di alam membuat satwa ini kerap disebut sebagai salah satu kucing liar paling misterius di dunia.

Menurut Ernes, pemilihan kucing merah sebagai maskot bukan sekadar persoalan visual. Satwa tersebut dinilai memiliki pesan penting mengenai perlindungan lingkungan dan keberlanjutan keanekaragaman hayati.

“Kenapa kita ambil itu? Karena termasuk yang kalau tidak kita jaga bisa punah,” tegasnya.

Ia berharap keberadaan kucing merah sebagai maskot Porprov II Kaltara dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan satwa endemik tersebut kepada masyarakat, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga habitatnya.

“Jadi kita juga sambil mengenalkan kepada masyarakat kita, ini loh salah satu hewan yang memang endemik asli Kalimantan, terutama Malinau,” pungkasnya.

Pos terkait