MalinauTerkini.com – Gudang Bulog di Malinau direncanakan memanfaatkan Lahan hibah seluas 1,7 hektare yang disiapkan di Malinau diproyeksikan memuat kompleks pergudangan modern berstandar pangan nasional.
Proyek di Bumi Intimung ini merupakan bagian dari megaproyek 100 infrastruktur pascapanen di 92 kabupaten dengan total pagu APBN mencapai Rp5 triliun, merujuk catatan Kementerian Sekretariat Negara.
Berdasarkan struktur pendanaan nasional, sekitar Rp4,4 triliun dialokasikan untuk pekerjaan sipil dan Rp560 miliar disiapkan bagi mekanisasi serta otomatisasi teknologi pergudangan.
Untuk unit tipe 1.000 ton seperti di Malinau, estimasi nilai konstruksi fisik diperkirakan berada di rentang Rp12 miliar hingga Rp20 miliar, menyesuaikan indeks kemahalan logistik material di pedalaman Kalimantan Utara.
Menariknya, Pasal 10 dan 11 Perpres 14/2026 menginstruksikan BUMN Karya selaku pelaksana utama agar wajib membentuk kemitraan operasi dengan kontraktor dan penyedia jasa lokal.
Secara teknis, gudang utama dirancang memiliki tapak bangunan (footprint) seluas 850 hingga 1.000 meter persegi dengan tinggi bebas kolom mencapai 7 meter.
Lantai gudang menggunakan pelat beton bertulang mutu tinggi K-300 yang mampu menahan beban tumpukan beras seberat 3,5 hingga 5 ton per meter persegi.
Untuk menjaga mutu beras dari pembusukan, konstruksi lantai wajib dilengkapi lembaran membran kedap air (vapor barrier) guna mencegah rembesan kelembapan tanah pedalaman.
Bangunan ini juga dipasangi dinding kombinasi bata dan cladding baja galvalum, disertai lapisan insulasi penangkal panas di bawah atap agar suhu ruangan stabil di kisaran 20 hingga 28 derajat Celsius.
Sirkulasi udara diatur lewat kisi ventilasi berpenyaring khusus yang dirancang rapat dari ancaman hama pengerat dan burung liar.
Kompleks seluas 1,7 hektare ini juga dilengkapi fasilitas jembatan timbang (weighbridge) digital berkapasitas 30 hingga 50 ton untuk truk fuso, dermaga bongkar muat berkanopi (loading dock), serta pelataran manuver beton.
Fasilitas ini direncanakan mengadopsi teknologi penyimpanan terpadu riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mampu memperpanjang masa simpan beras hingga mendekati dua tahun tanpa ketergantungan fumigasi kimiawi berlebih.
Rancangan teknologi ini memastikan beras cadangan pemerintah yang sampai ke piring warga Malinau tetap segar, utuh, dan bebas dari bau apek.
