Menenggelamkan Jantung Borneo: Analisis Nugal Isntitute Sisi Gelap Transisi Energi Malinau

Sampul depan buku Menenggelamkan Jantung Borneo, menggambarkan ilustrasi PLTA dan sungai Keterangan Gambar Buku laporan lapangan dampak PLTA Mentarang, diterbitkan Nugal Institute dan LP3M Malinau
Buku laporan lapangan dampak PLTA Mentarang, diterbitkan Nugal Institute dan LP3M Malinau

MalinauTerkini.com – Membuka lembaran buku Menenggelamkan Jantung Borneo serasa dihadapkan pada realitas lain dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Mentarang Induk.

Di tengah gempuran narasi pembangunan nasional yang mengelukan proyek berkapasitas 1.375 Megawatt sebagai simbol transisi energi bersih dan pembangunan hijau, hadir sebuah terbitan lokal yang menyuarakan narasi tandingan dari sudut pandang masyarakat akar rumput.

Buku yang lahir dari investigasi kolaboratif antara riset independen Nugal Institute dan pendampingan warga adat oleh LP3M Malinau ini menjadi dokumen sejarah penting bagi Kabupaten Malinau.

Laporan ini berani mengembalikan fakta ekologis dan sosial langsung ke tangan warga yang mendiami bentang sungai Tubu dan Mentarang.

Disusun secara sistematis ke dalam lima bab utama, karya ini mengupas tuntas realitas proyek bendungan raksasa di hulu Malinau.

Pada bagian awal, buku ini menggambarkan sejarah geografis serta ekosistem unik bentang Sungai Tubu dan Mentarang yang kaya akan keanekaragaman hayati. Penulis membedah dinamika alih fungsi kawasan hutan, termasuk 243,66 hektare kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang yang dikorbankan untuk genangan bendungan. Tercatat pula dengan getir jejak perjalanan masyarakat adat Dayak Punan yang terus menerus menjadi korban politik pemindahan pemukiman sejak era kolonial hingga kini berisiko menjadi pengungsi di tanah leluhurnya sendiri.

Bagian yang paling berani dalam buku ini adalah pemetaan detail struktur kepemilikan dan relasi kekuasaan di balik PT Kayan Hydropower Nusantara. Penulis membeberkan pertautan sirkuit bisnis antara raksasa batubara nasional, perusahaan Malaysia, pengusaha lokal, hingga keterhubungan dengan elit politik nasional serta kontraktor asal Tiongkok. Buku ini mencoba membuktikan bahwa listrik raksasa ini diproduksi bukan untuk warga Malinau, melainkan demi memasok Kawasan Industri Hijau Indonesia di Bulungan.

Halaman demi halaman juga membawa pembaca melihat studi kasus nyata dari kehancuran ekosistem dan konflik sosial akibat bendungan raksasa secara global, seperti PLTA Belo Monte di Brasil hingga perjuangan warga Sarawak yang berhasil membatalkan proyek PLTA Baram di Malaysia.

Jantung emosional buku ini terletak pada rekaman ancaman lenyapnya ratusan flora dan fauna, seperti ikan endemik Pelian, burung Tuwou, pohon inau, serta puluhan tanaman obat tradisional. Pendekatan etnografi secara khusus mengulas dampak gender bagi perempuan Punan yang kehilangan peran sebagai penjaga pengetahuan obat dan meramu, serta hilangnya ruang bermain yang aman bagi anak anak di bantaran sungai.

Karya ini turut meruntuhkan klaim rendah karbon pada PLTA dengan membeberkan temuan ilmiah tentang pembusukan jutaan ton vegetasi di waduk yang menghasilkan emisi gas metana. Selain itu, terungkap ancaman pelepasan gas asam Hidrogen Sulfida dan racun Metil Merkuri di dasar waduk yang berisiko mengkontaminasi rantai makanan air hingga ke hilir Malinau.

Keunggulan buku ini adalah keberhasilannya menggabungkan data statistik yang presisi dengan narasi kesaksian warga lokal yang humanis. Kehadiran peta berwarna, diagram jaringan aktor, serta foto dokumentasi lapangan membuat buku setebal 110 halaman ini sangat komunikatif.

Catatan penutup dari Hendro Sangkoyo memberikan penegasan filosofis bahwa apa yang terjadi di bentang Tubu Mentarang bukanlah sekadar proyek pembangunan biasa, melainkan bencana sosial ekologis yang terencana.

Laporan bisa diunduh langsung di sini: Buku Laporan lapangan dampak PLTA Mentarang

Menuntaskan bacaan ini menyadarkan kita bahwa buku ini adalah bacaan wajib bagi seluruh elemen warga Malinau. Di tengah minimnya transparansi informasi publik, buku ini hadir sebagai obor penerang agar warga lokal memiliki kedaulatan penuh untuk menjaga hutan, sungai, dan masa depan tanah kelahirannya.

Buku laporan lapangan dampak PLTA Mentarang, diterbitkan Nugal Institute dan LP3M Malinau
Sampul belakang Buku laporan lapangan dampak PLTA Mentarang, diterbitkan Nugal Institute dan LP3M Malinau

Identitas Buku Judul Buku: MENENGGELAMKAN JANTUNG BORNEO Bagaimana Proyek PLTA Mentarang untuk Industri Hijau Membenamkan Kehidupan di Sungai Tubu Mentarang, Malinau, Kalimantan Utara

Tim Penyusun: Abdullah Naem, Boro Suban Nikolaus, Merah Johansyah, Saifullah Fadly, dan Theresia Jari Kontributor dan Catatan Penutup: Winfridus Overbeek dan Hendro Sangkoyo

Penerbit: NUGAL Institute for Social and Ecological Studies bekerjasama dengan LP3M Malinau

Tahun Terbit: November 2025

Tebal: 110 Halaman

Penulis: Maya | Editor: Karin