MalinauTerkini.com – Di kedalaman hutan hujan SPTN 2 Long Alango, ratusan kilometer dari hiruk pikuk peradaban modern, pilar-pilar batu raksasa berdiri membisu.
Bukan sekadar formasi alam, bongkahan batu andesit seberat lebih dari satu ton itu tersusun presisi.
Diselimuti lumut tebal dan akar pakis yang lembab, struktur ini adalah “Kuburan Batu” saksi bisu bahwa belantara perbatasan Indonesia-Malaysia ini pernah menjadi pusat peradaban manusia yang riuh di masa lampau.
Temuan yang kini diinventarisasi oleh Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) ini bukan hanya serpihan sejarah, melainkan bukti otentik tradisi Megalitikum (zaman batu besar) yang membentang dari Malinau hingga Nunukan.

Arsitektur Kematian yang Misterius
Berdasarkan observasi lapangan, situs ini menampilkan teknik rekayasa purba yang menakjubkan. Struktur makam tidak diletakkan sembarangan.
Dua lempeng batu pipih ditancapkan vertikal bak pilar, berfungsi sebagai penyangga.
Di atasnya, sebuah batu lempeng berdiameter 1 hingga 2 meter diletakkan melintang menyerupai meja altar (dolmen).
Di bagian tengah, terdapat batu pelindung tempat jenazah leluhur bersemayam.
“Strukturnya kokoh, seolah menantang waktu. Lumut hijau yang menyelimutinya justru mempertegas aura sakral dari situs yang menyatu dengan ekosistem hutan sekitarnya,” ujar Seno Pramudito, Kepala Balai TNKM, saat memaparkan hasil pendataan terbaru, Senin (5/1/2026).
Melacak Leluhur Kaltara
Keberadaan situs ini mematahkan anggapan bahwa pedalaman Kalimantan dulunya adalah wilayah kosong tak bertuan. Sebaliknya, sebaran situs yang ditemukan di dua kabupaten (Malinau dan Nunukan) mengindikasikan adanya demografi masyarakat yang terorganisir, menetap, dan memiliki sistem kepercayaan kompleks terkait kematian.

“Ini membuktikan Kaltara memiliki akar peradaban tua. Nenek moyang kita di sini memiliki kemampuan memobilisasi tenaga kerja untuk mengangkut batu besar dan menyusunnya tanpa alat berat modern,” tambah Seno.
Balai TNKM kini berpacu dengan waktu. Proses inventarisasi dan pendataan diperketat bukan hanya untuk arsip, tetapi sebagai langkah proteksi. Di tengah ancaman perubahan iklim dan aktivitas manusia, situs-situs “puzzle sejarah” ini rawan rusak sebelum sempat diceritakan secara utuh.
Lebih dari Sekadar Batu
Bagi masyarakat adat setempat, situs-situs ini lebih dari sekadar objek arkeologi. Ia adalah titik koordinat spiritual yang menghubungkan generasi sekarang dengan leluhur mereka.
Upaya TNKM memetakan situs ini diharapkan membuka tabir: Siapa sebenarnya ‘arsitek’ kuburan batu ini? Bagaimana cara mereka hidup di hulu sungai ratusan hingga ribuan tahun silam?
Hutan Kayan Mentarang kini tak hanya menyimpan kekayaan biodiversitas flora dan fauna, tetapi juga menjaga “perpustakaan batu” yang menunggu untuk dibaca dunia.

Maya – Jurnalis lapangan sejak 2022 yang doyan liput kejadian ekstrem: banjir, longsor, kecelakaan, sampai sidang korupsi. Maya jamin setiap beritanya hasil cek fakta dua kali, plus tetep humanis. Kalau ada insiden mendadak, dijamin dia paling cepat ke TKP.





